Osteoartritis adalah suatu kelainan sendi kronis dimana terjadi proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi yang disertai dengan pertumbuhan tulang dan
tulang rawan baru pada sendi.
Osteoartritis lebih banyak ditemukan pada perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki yaitu 68,67%. Osteoartritis terjadi akibat kondrosit (sel pembentuk proteoglikan dan kolagen pada rawan sendi) gagal dalam memelihara keseimbangan antara degradasi dan sintesis matriks ekstraseluler, sehingga terjadi perubahan diameter dan orientasi
serat kolagen yang mengubah biomekanik dari tulang rawan, yang menjadikan tulang rawan sendi kehilangan sifat kompresibilitasnya
yang unik. Selain kondrosit, sinoviosit juga berperan pada patogenesis OA, terutama setelah terjadi sinovitis, yang menyebabkan
nyeri dan perasaan tidak nyaman. Faktor-faktor yang telah diteliti sebagai faktor risikoOA lutut
antara lain usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin perempuan,ras / etnis, genetik, kebiasaan merokok, konsumsi vitamin D, obesitas, osteoporosis, diabetes- mellitus,
hipertensi, hiperurisemi, histerektomi, menisektomi, riwayat trauma lutut, kelainan anatomis, kebiasaan bekerja dengan beban
berat, aktivitas fisik berat dan kebiasaan olah raga
Latihan Fisik yang disarankan seperti apa?
Pada pasien OA, paradigma melakukan aktivitas fisik dahulunya, merupakan sesuatu hal yang dilarang. Hal ini terkait dengan hipotesis fenomena wear and tear yakni semakin berat aktivitas fisik yang dilakukan, maka proses degenerasi akan semakin berat dan cepat. Tentu, bila dikaitkan dengan OA maka aktivitas fisik menjadi hal yang dilarang. Namun, paradigma ini kini sudah ditinggalkan, dimana aktivitas fisik sudah dianggap menjadi bagian dari terapi pada pasien OA. Aktivitas fisik dan latihan fisik sangat disarankan untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi sendi.
Berikut latihan fisik bagi penderita osteoarthitis:
1.Latihan Aerobik
Latihan aerobik seperti berjalan dapat disarankan untuk pasien OA. Latihan aerobik dengan intensitas sedang sampai berat, disarankan seara rutin 3- 60 menit/hari selama >5 hari minggu, dimana aktivitas yang dapat dilakukan seperti jalan pelan, renang cepat dan bersepeda santai. Sedangkan intensitas berat, disarankan seperti 20-60 menit selama 3-5 hari/minggu, seperti jogging, renang cepat dan bersepeda cepat.
2.Latihan resistensi
Latihan resistensi merupakan latihan yang bertujuan untuk meningkatkan massa, tonus, kekuatan, dan daya tahan otot dengan mengkontraksikan otot. Cara yang umum digunakan adalah dengan angkat beban. Latihan resistensi ini dapat dilakukan 2-3 hari/minggu dengan intensitas sedang – berat dan diulang minimal 6 – 12 kali, setiap sesinya.Contohnya :
Straight Leg Test : Duduk tegak, luruskan dan angkat satu tungkai sampai maksimal. Tahan sekitar 10 detik, turunkan, dan ulangi pada tungkai yang lain. Lakukan pengulangan 10 kali.
3.Latihan Fleksibilitas
Latihan ini adalah latihan yang bertujuan untuk meningkatkan ruang gerak sendi, kekuatan, keseimbangan dan daya tahan pasien. Latihan yang disarankan seperti yoga, stretching, pilates. Latihan ini dapat dilakukan lebih dari 2 – 3 hari/minggu dengan waktu peregangan 10-30 detik. Pada usia lanjut, durasi peregangan disarankan lebih lama, sekitar 30-60 detik. Contoh gerakan untuk meningkatkan ruang gerak sendi.
Selain itu, terdapat hal – hal yang harus diperhatikan dalam memulai latihan fisik, yakni :
✓Hindari latihan yang berlebihan/berat pada saat sedang peradangan
✓Peningkatan durasi dari aktivitas fisik harus sejalandengan peningkatan intensitas aktivitas fisik
✓Lakukan pemasanan dan pendinginan yang cukup minimal 5 -10 menit setiap kali memulai latihan
✓Ketidaknyamanan di awal saat melakukan aktivitas fisik adalah hal yang biasa, tetap lakukan dengan intensitas dan durasi yang rendah terlebih dahulu sangat disarankan.
✓Gunakan sepatu yang memiliki “shock absorbtion” yang akan membantu dalam pergerakan
✓Tetap lakukan diet untuk menurunkan berat badan bagi pasien OA



Komentar
Posting Komentar