Langsung ke konten utama

CARPAL TUNNEL SYNDROME

 Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah entrapment neuropathy yang terjadi akibat adanya penekanan nervus medianus pada saat melalui terowongan karpal di pergelangan tangan tepatnya di bawah fleksor retinaculum.

Etiologi

Secara umum penyebab carpal tunnel syndrome karena faktor keturunan, pekerjaan, trauma dan inflamasi. Syndrome carpal tunnel terjadi ketika jaringan disekitar tendon fleksor pada pergelangan tangan membengkak dan menekan saraf medianus (Mujianto, 2013).

Patofisilogi

Pada umumnya CTS terjadi secara kronis karena faktor mekanik dan faktor vaskuler. Faktor mekanik berupa gerakan berulang dengan kontraksi yang kuat menimbulkan pembekakan sarung tendon dalam terowongan karpal kemudian menimbulkan tekanan pada nervus medianus. Sedangkan faktor vaskuler berupa tekanan yang kuat, lama, dan berulang-ulang yang akan menyebabkan peninggian tekanan intravaskuler sehingga aliran darah intravaskuler melambat dan merusak endotel menyebabkan nyeri local (Eka, 2005).

Tanda dan Gejala Klinis

Tanda dan gejala klinis CTS meliputi mati rasa, kesemutan dan nyeri pada tangan, rasa seperti tersengat listrik pada ibu jari, telunjuk dan jari tengah (Mujianto, 2013)


Teknologi Intervensi

1.Ultra Sound Penggunaan ultra sound pada kasus carpal tunnel syndrome adalah untuk meningkatkan sirkulasi darah akibat efek micro massage yang ditimbulkan dan menyebabkan efek thermal sehingga menyebabkan otot relaksasi. 

2. Infra Merah Penggunaan infra merah pada kasus carpal tunnel syndrome adalah untuk menaikan temperatur pada jaringan sehingga menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah selain itu pemanasan yang ringan pada otot akan menimbulkan pengaruh sedatif terhadap ujung-ujung syaraf sensoris.

3. Terapi latihan Menurut Arovah (2010), ada beberapa jenis terapi latihan yang digunakan pada kasus carpal tunnel syndrome, antara lain : 

a) Active exercise Adalah gerakan yang dilakukan karena adanya kekuatan otot dan anggota tubuh sendiri tanpa
bantuan, gerakan yang dihasilkan oleh kontraksi dengan melawan gravitasi. 

b) Passive exercise Adalah latihan gerakan yang dilakukan oleh bantuan dari luar dan bukan merupakan kontraksi otot yang disadari. Menurut Kisner and Colby (2007) gerak passive exercise menyebabkan efek penurunan nyeri akibat aliran darah lancar serta membuat daerah sekitar sendi menjadi rileks sehingga bisa menambah LGS dan menjaga elastisitas otot. 

c) Resisted active exercise Resisted active exercise dapat meningkatkan kekuatan otot oleh karena jika suatu tahanan diberikan pada otot yang berkontraksi, maka otot tersebut akan beradaptasi dengan meningkatkan kekuatan otot akibat hasil adaptasi syaraf dan peningkatan serat otot (Kisner and Colby, 2007).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batang Otak , Diensefalon, Serebrum, dan Serebelum Serta Fungsinya

BATANG OTAK : ​•Otak Tengah Berisi jalur Asendens dan Desendens serta Nuklei Saraf Kranial Spesifik (Penting untuk Pengendalian Motorik) ​•Pons Berisi Nuklei untuk pengaturan pernapasan dan Untuk saraf kranial V, VI dan VII   ​•Medula Oblongata Mengatur pernapasan, jantung, dan pusat vasomotor, berisi nuklei untuk saraf kranial VIII hingga XII DIENSEFALON : ​Talamus mengantarkan informasi ke area sensorik kortikal spesifik ​Hipotalamus mengendalikan suhu tubuh, emosi, agresi, makan, minum, siklus tidur/bangun, perilaku seksual, dan pengaturan saraf otonom SEREBRUM ​•Hemisfer Serebral lihat fungsi setiap lobus di tabel 4-67 •​Ganglia Basal Membentuk sistem motorik penghubung  yang disebut ekstrapiramidal; penting dalam penyusunan rencana motorik dan penyesuaian gerakan SEREBELUM : ​•Arkiserebelum ekuilibrium dan pengaturan tonus otot •​Paleoserebelum Pemeliharaan Postur dan pengendali gerakan volunter ​•Neoserebelum Ko...